PENGAWASAN PELAJAR PASCA KELULUSAN, oleh : Isa Surya Aji

Minggu, 25 Desember 2016


Menanggapi esai Dyah Makutaning Dewi yang berjudul “Peran Pendidikan Keluarga Pasca Kelulusan” (Tribun Jateng,4 Mei2016) cukup menarik perhatian untuk di bahas.

Memang benar di era globalisasi seperti sekarang ini sangat banyak pelajar yang menilai bahwa euforia kelulusan adalah dengan cara ber konvoi beramairamai dengan mengenakan seragam yang telah dicorat-coret sedemikian rupa. Selain itu tindakan semacam ini tidak jarang menyebabkan laka. Mulai dari kecelakaan, tawuran, kemacetan dan lain sebagainya.

Hal ini sangatlah bertentangan dengan semua nilai-nilai yang telah diajarkan dalam instansi pendidikan formal. Seringkali para remaja berdalih apabila hal itu dilakukan semata-mata untuk meluapkan rasa lelahnya selama beberapa tahun belajar di sekolah yang mereka pilih.

Siswa-siswi yang tidak mau diajak untuk berkonvoi akan mendapat ejekan ataupun tindakan kurang menyenangkan dari teman sebayanya. Hal inimenyebabkan hamper sebagian besar siswa dan siswi yang berniat baik justru ikut terjerumus kedalam aktifitas yang kurang bermutu ini.

Dari sinilah peran dari orangtua sangat diperlukan untuk mencegah hal-hal semacam ini. Orang tua di anjurkan untuk lebih mawas terhadap setiap aktifitas anaknya ketika telah menganjak remaja. Tindakan controlling terhadap anak yang mulai beranjak remaja sangatlah perlu dilakukan. Mulai dari pengawasan aktifitas dunia maya hingga pergaulan dengan lingkungan sekitar.

Sedari dini anak wajib ditanamkan rasa bersyukur atas segala macam anugerah dari Tuhan. Tidak terkecuali dengan anugerah kelulusan yang didapat. Sangat tepat memang yang dikatakan saudari Dyah mengenai Pendidikan yang dapat dilakukan orang tua kepada anak dalam merayakan kelulusan yaitu melalui tindakan bersyukur, berbagi, dan bermimpi (3B).

Tindakan tersebut bias memicu kesadaran anak bahwa dalam merayakan kelulusan tidak harus dengan hal-hal negatif seperti konvoi, corat-coret, ataupun tawuran.

Akan tetapi, dalam esai saudari Dyah tidak dijelaskan bahwa bukan hanya orang tua saja yang harus berperan dalam proses controlling dalam rangka mencegah euforia kelulusan yang berlebihan. Akan tetapi peran aparat juga sangat penting dalam hal ini.

Aparat diharap bias lebih tegas dalam menindak para pelajar yang melakukan tindakan berlebihan seperti ini. Karena apabila aparat hanya diam dan acuh-tak acuh maka peran orang tua juga akan banyak yang sia-sia terutama bagi orang tua yang merasa sudah lepas tangan dengan perilaku anaknya.

0 komentar:

Posting Komentar