Menanggapi esai Dyah
Makutaning Dewi yang berjudul “Peran Pendidikan Keluarga Pasca Kelulusan”
(Tribun Jateng,4 Mei2016) cukup menarik perhatian untuk di bahas.
Memang benar di era
globalisasi seperti sekarang ini sangat banyak pelajar yang menilai bahwa euforia kelulusan adalah dengan cara ber
konvoi beramairamai dengan mengenakan seragam yang telah dicorat-coret
sedemikian rupa. Selain itu tindakan semacam ini tidak jarang menyebabkan laka.
Mulai dari kecelakaan, tawuran, kemacetan dan lain sebagainya.
Hal ini sangatlah
bertentangan dengan semua nilai-nilai yang telah diajarkan dalam instansi
pendidikan formal. Seringkali para remaja berdalih apabila hal itu dilakukan
semata-mata untuk meluapkan rasa lelahnya selama beberapa tahun belajar di
sekolah yang mereka pilih.
Siswa-siswi yang tidak
mau diajak untuk berkonvoi akan mendapat ejekan ataupun tindakan kurang
menyenangkan dari teman sebayanya. Hal inimenyebabkan hamper sebagian besar
siswa dan siswi yang berniat baik justru ikut terjerumus kedalam aktifitas yang
kurang bermutu ini.
Dari sinilah peran dari
orangtua sangat diperlukan untuk mencegah hal-hal semacam ini. Orang tua di
anjurkan untuk lebih mawas terhadap setiap aktifitas anaknya ketika telah
menganjak remaja. Tindakan controlling terhadap
anak yang mulai beranjak remaja sangatlah perlu dilakukan. Mulai dari
pengawasan aktifitas dunia maya hingga pergaulan dengan lingkungan sekitar.
Sedari dini anak wajib
ditanamkan rasa bersyukur atas segala macam anugerah dari Tuhan. Tidak
terkecuali dengan anugerah kelulusan yang didapat. Sangat tepat memang yang
dikatakan saudari Dyah mengenai Pendidikan yang dapat dilakukan orang tua kepada
anak dalam merayakan kelulusan yaitu melalui tindakan bersyukur, berbagi, dan
bermimpi (3B).
Tindakan tersebut bias
memicu kesadaran anak bahwa dalam merayakan kelulusan tidak harus dengan
hal-hal negatif seperti konvoi, corat-coret, ataupun tawuran.
Akan tetapi, dalam esai
saudari Dyah tidak dijelaskan bahwa bukan hanya orang tua saja yang harus
berperan dalam proses controlling
dalam rangka mencegah euforia kelulusan
yang berlebihan. Akan tetapi peran aparat juga sangat penting dalam hal ini.
Aparat
diharap bias lebih tegas dalam menindak para pelajar yang melakukan tindakan
berlebihan seperti ini. Karena apabila aparat hanya diam dan acuh-tak acuh maka
peran orang tua juga akan banyak yang sia-sia terutama bagi orang tua yang
merasa sudah lepas tangan dengan perilaku anaknya.
0 komentar:
Posting Komentar