Masyarakat Indonesia
sangat minim kesadarannya dalam membaca. Apalagi dalam melirik karya karya
sastra yang bermunculan di Indonesia. Masyarakat lebih tertarik dengan bacaan
bacaan yang bersifat digital terutama di media sosial yang marak dengan
kisah-kisah percintaan ataupun cerita-cerita yang kurang penting.
Bahkan di media sosial
sangat banyak tulisan-tulisan yang seakan-akan menyebutkan bahwa tulisan
tersebut merupakan sebuah karya sastra yang sangat bagus.
Padahal tulisan itu sama
sekali tidak ada unsur seni ataupun kesusastraan. Justru tulisan-tulisan
seperti itu hanya berisi kutipan atau tulisan yang tidak berbobot meskipun
mudah dipahami.
Hal ini memunculkan
mainset generasi kita khususnya kaum muda yang notabenenya adalah pelajar yang
mengartikan karya sastra itu tidak seperti pengertian yang sesungguhnya.
Padahal generasi muda
Bangsa Indonesia iniadalah kunci utama dalam perkembangan budaya khususnya di
bidang kesusastraan di Indonesia. Kalau bukan kita lalu siapa lagi yang akan
peduli dengan kesusastraan yang ada di Negaranya sendiri?
Akankah mungkin suatu
saat justru bangsa lain yang melirik kesusastraan kita dan mereka pula yang
nantinya mengambil nilai-nilai estetika dalam karya tersebut lalu menjadikannya
sebagai suatu nilai lebih di Negaranya?
Pengaruh-pengaruh lain
pun juga bisa membuat generasi muda menjadi enggan tahu apa itu karya sastra
yang sebenarnya, apa filosofi dibalik karya itu, bagaimana sejarah
penciptaannya, ataupun yang lainnya.
Mengetahui akan bahaya
ketidak pedulian generasi muda terhadap karya sastra Universitas PGRI Semarang
pada hari Rabu 12 Oktober 2016 menggelar suatu acara yang bertemakan “UPGRIS
BERSASTRA”.
Acara ini
diselenggarakan dalam rangka memperingati bulan Bahasa yang jatuh pada bulan
Oktober danan dilaksanakan di gedung Balairung Universitas PGRI Semarang.
Acara ini membahas
tentang karya seni yang sebenarnya khususnya karya seni yang dibukukan. Didalam penyelenggaraan
acara UPGRIS mengundang Triyanto Triwikromo sebagai bintang tamu yang karyanya
sekaligus menjadi objek kajian atau bahasan dalam acara tersebut.
Dalam pembahasan buku
Triyanto, UPGRIS mengemasnya dengan berbagai versi yang masing-masing
ditampilkan oleh Rektor, Dosen, Group Musik Biscuittime dan tentu saja
mahasiswa. Penampilannya antara lain pembacaan puisi, Musikalisasi puisi, dan
pentas tariyang menceritakan berbagai karya dalam buku karya Triyanto.
Acara ini cukup menarik
untuk disaksikan. Ada banyak mahasiswa yang menyaksikan acara ini. Mulai dari
mahasiswa semester 1 sampai semester 7 semua berkumpul dibalairung.
Selain tentu saja
mahasiswa program studi Bahasa Indonesia, Mahasiswa program studi lainpun ikut
hadir memeriahkan acara ini.
Banyak Mahasiswa yang
antusias dengan acara Upgris Bersastra khususnya Mahasiswa PBSI.
Ada yang bener-benar
suka dengan sastra sehingga menyaksikan dengan senang hati, ada juga yang
menyaksikan karena tuntutan suatu hal. Bisa dari temannya yang meminta untuk
ditemani, ataupun permintaan dosen.
Khusus untuk Mahasiswa
PBSI yang secara sepesial diampu oleh dosen Penulisan Media Masa, Bapak Setia
Naka Andrian memberikan tugas yang
sangat mulia untuk menulis sebuah esai tentang UPGRIS BERSASTRA.
Tugas ini selain
memberi motivasi kepada mahasiswa untuk mau memeriahkan acara, juga untuk
melatih kelihaian tangan serta pikiran dalam menulis suatu karangan yang
nantinya akan menjadi suatu karya sastra yang bermutu seperti karya yang selama
ini dicontohkan oleh Bapak Setia Naka Andrian.
Dengan adanya acara ini
kita sebagai generasi muda disadarkan bahwa karya sastra itu bukanlah sekadar
tulisan belaka yang tak bernilai yang akan habis dalam ucapan belaka. Akan
tetapi karya sastra memiliki nilai-nilai filosofis yang sangatberharga
apabilakita mahu membedahnya dengan teliti dan benar.
0 komentar:
Posting Komentar