SASTRA KITA BERSAMA, oleh : Isa Surya Aji, Manusia Melenium

Minggu, 25 Desember 2016


Masyarakat Indonesia sangat minim kesadarannya dalam membaca. Apalagi dalam melirik karya karya sastra yang bermunculan di Indonesia. Masyarakat lebih tertarik dengan bacaan bacaan yang bersifat digital terutama di media sosial yang marak dengan kisah-kisah percintaan ataupun cerita-cerita yang kurang penting.

Bahkan di media sosial sangat banyak tulisan-tulisan yang seakan-akan menyebutkan bahwa tulisan tersebut merupakan sebuah karya sastra yang sangat bagus.

Padahal tulisan itu sama sekali tidak ada unsur seni ataupun kesusastraan. Justru tulisan-tulisan seperti itu hanya berisi kutipan atau tulisan yang tidak berbobot meskipun mudah dipahami.

Hal ini memunculkan mainset generasi kita khususnya kaum muda yang notabenenya adalah pelajar yang mengartikan karya sastra itu tidak seperti pengertian yang sesungguhnya.

Padahal generasi muda Bangsa Indonesia iniadalah kunci utama dalam perkembangan budaya khususnya di bidang kesusastraan di Indonesia. Kalau bukan kita lalu siapa lagi yang akan peduli dengan kesusastraan yang ada di Negaranya sendiri?

Akankah mungkin suatu saat justru bangsa lain yang melirik kesusastraan kita dan mereka pula yang nantinya mengambil nilai-nilai estetika dalam karya tersebut lalu menjadikannya sebagai suatu nilai lebih di Negaranya?

Pengaruh-pengaruh lain pun juga bisa membuat generasi muda menjadi enggan tahu apa itu karya sastra yang sebenarnya, apa filosofi dibalik karya itu, bagaimana sejarah penciptaannya, ataupun yang lainnya.

Mengetahui akan bahaya ketidak pedulian generasi muda terhadap karya sastra Universitas PGRI Semarang pada hari Rabu 12 Oktober 2016 menggelar suatu acara yang bertemakan “UPGRIS BERSASTRA”.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober danan dilaksanakan di gedung Balairung Universitas PGRI Semarang.

Acara ini membahas tentang karya seni yang sebenarnya khususnya karya seni yang dibukukan. Didalam penyelenggaraan acara UPGRIS mengundang Triyanto Triwikromo sebagai bintang tamu yang karyanya sekaligus menjadi objek kajian atau bahasan dalam acara tersebut.

Dalam pembahasan buku Triyanto, UPGRIS mengemasnya dengan berbagai versi yang masing-masing ditampilkan oleh Rektor, Dosen, Group Musik Biscuittime dan tentu saja mahasiswa. Penampilannya antara lain pembacaan puisi, Musikalisasi puisi, dan pentas tariyang menceritakan berbagai karya dalam buku karya Triyanto.

Acara ini cukup menarik untuk disaksikan. Ada banyak mahasiswa yang menyaksikan acara ini. Mulai dari mahasiswa semester 1 sampai semester 7 semua berkumpul dibalairung.

Selain tentu saja mahasiswa program studi Bahasa Indonesia, Mahasiswa program studi lainpun ikut hadir memeriahkan acara ini.

Banyak Mahasiswa yang antusias dengan acara Upgris Bersastra khususnya Mahasiswa PBSI.

Ada yang bener-benar suka dengan sastra sehingga menyaksikan dengan senang hati, ada juga yang menyaksikan karena tuntutan suatu hal. Bisa dari temannya yang meminta untuk ditemani, ataupun permintaan dosen.

Khusus untuk Mahasiswa PBSI yang secara sepesial diampu oleh dosen Penulisan Media Masa, Bapak Setia Naka Andrian  memberikan tugas yang sangat mulia untuk menulis sebuah esai tentang UPGRIS BERSASTRA.

Tugas ini selain memberi motivasi kepada mahasiswa untuk mau memeriahkan acara, juga untuk melatih kelihaian tangan serta pikiran dalam menulis suatu karangan yang nantinya akan menjadi suatu karya sastra yang bermutu seperti karya yang selama ini dicontohkan oleh Bapak Setia Naka Andrian.

Dengan adanya acara ini kita sebagai generasi muda disadarkan bahwa karya sastra itu bukanlah sekadar tulisan belaka yang tak bernilai yang akan habis dalam ucapan belaka. Akan tetapi karya sastra memiliki nilai-nilai filosofis yang sangatberharga apabilakita mahu membedahnya dengan teliti dan benar.



0 komentar:

Posting Komentar